Anthropic Kembali Bernegosiasi dengan Departemen Pertahanan AS untuk Kerjasama Strategis

Anthropic saat ini tengah berupaya menjalin kembali kesepakatan dengan Departemen Pertahanan AS. Langkah ini diharapkan dapat menghindarkan perusahaan dari penilaian sebagai risiko dalam rantai pasokan. Menurut informasi dari Financial Times dan Bloomberg, CEO Anthropic, Dario Amodei, telah melanjutkan negosiasi dengan pihak departemen terkait penggunaan model AI yang mereka kembangkan. Dalam hal ini, Amodei dilaporkan sedang berdiskusi dengan Emil Michael, yang menjabat sebagai Under Secretary of Defense for Research and Engineering.
Keduanya sebelumnya berusaha untuk merumuskan kontrak yang berkaitan dengan pemanfaatan model-model Anthropic. Namun, negosiasi tersebut terhenti karena ketidakcocokan antara kedua belah pihak, khususnya setelah pemerintah mulai meragukan perusahaan. Dilaporkan bahwa mereka tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai istilah yang diinginkan oleh perusahaan AI tersebut untuk memastikan bahwa teknologi mereka tidak akan digunakan untuk pengawasan massal.
Dalam sebuah memo yang disampaikan kepada karyawan Anthropic, Amodei mengungkapkan bahwa pihak Departemen Pertahanan bersedia menerima syarat yang diajukan oleh perusahaan, asalkan mereka menghapus satu frasa tertentu yang merujuk pada “analisis data yang diperoleh secara massal.” Ia menambahkan bahwa kalimat tersebut adalah yang paling menjadi perhatian mereka. Anthropic yang sebelumnya menandatangani kontrak senilai 200 juta dolar dengan departemen tersebut pada tahun 2025, menolak untuk memenuhi permintaan Pentagon. Akibatnya, departemen mengancam untuk membatalkan kontrak yang ada dan menandai Anthropic sebagai “risiko rantai pasokan,” sebuah label yang biasanya diberikan kepada perusahaan-perusahaan asal China. Setelah itu, Presiden Trump mengeluarkan perintah agar lembaga pemerintah menghentikan penggunaan teknologi dari Anthropic. Meskipun demikian, terdapat periode pengurangan selama enam bulan yang memungkinkan pemerintah menggunakan alat AI Anthropic untuk merencanakan serangan udara terhadap Iran.
Amodei juga menyatakan dalam memo tersebut bahwa pesan yang disampaikan oleh OpenAI adalah “kebohongan belaka.” Ia juga menyiratkan bahwa salah satu alasan mengapa perusahaan mereka kini berada di luar lingkaran pemerintah adalah karena ia tidak memberikan pujian berlebihan kepada Trump, berbeda dengan Sam Altman dari OpenAI.
Perlu diingat bahwa OpenAI mengumumkan telah mencapai kesepakatan tak lama setelah berita mengenai masalah yang dihadapi Anthropic dengan departemen tersebut mencuat. CEO OpenAI, Sam Altman, melalui Twitter menyatakan bahwa ia telah memberi tahu pemerintah bahwa Anthropic seharusnya tidak ditetapkan sebagai risiko rantai pasokan. Dalam sebuah sesi tanya jawab di media sosial, ia menegaskan bahwa meskipun tidak mengetahui detail kontrak Anthropic, jika kondisinya serupa dengan yang telah disepakati OpenAI, maka seharusnya Anthropic juga dapat setuju. Chatbot Claude milik Anthropic pun berhasil meraih posisi teratas dalam daftar aplikasi gratis terpopuler di Apple setelah OpenAI mengumumkan kontrak dengan Departemen Pertahanan.
Selanjutnya, Altman mengumumkan di platform X bahwa OpenAI akan melakukan amandemen kontraknya dengan menambahkan klausul yang secara eksplisit melarang penggunaan sistem AI mereka untuk pengawasan massal terhadap warga Amerika. Namun, terkait penggunaan teknologi mereka oleh militer, CNBC melaporkan bahwa Altman menyatakan kepada para staf bahwa perusahaan tidak memiliki kendali dalam pengambilan keputusan operasional tersebut. Dalam sebuah pertemuan yang dihadiri seluruh karyawan, ia menekankan hal ini untuk memastikan transparansi dan pemahaman yang jelas terkait posisi perusahaan di mata pemerintah dan masyarakat.
➡️ Baca Juga: Hello world!