Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, masih menghadapi tantangan yang cukup signifikan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis per April 2026, jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di daerah ini masih mencapai angka 28 ribu. Meskipun terdapat penurunan jika dibandingkan dengan angka sebelumnya yang mencatat 29 ribu pada Oktober 2025, masalah ini tetap menjadi fokus perhatian pemerintah setempat.
Penurunan Angka ATS: Progres yang Masih Perlu Ditingkatkan
Penurunan jumlah ATS sebesar seribu orang menunjukkan adanya kemajuan, di mana sejumlah warga berhasil kembali ke jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal. Namun, angka 28 ribu masih dianggap tinggi dan memerlukan upaya lebih lanjut untuk mengatasinya. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya, Wandi Herpiandi, menegaskan bahwa ATS terdiri dari dua kelompok: anak-anak yang telah putus sekolah dan mereka yang sama sekali belum mendapatkan pendidikan.
Definisi Anak Tidak Sekolah di Tasikmalaya
Menurut Wandi, penting untuk memahami bahwa data ATS mencakup dua kategori yang berbeda. Pertama adalah anak-anak yang telah terpaksa menghentikan pendidikan mereka, dan kedua adalah individu yang belum pernah bersekolah sama sekali. Kategori kedua ini menunjukkan fakta yang mengejutkan, di mana sebagian besar dari mereka adalah warga berusia antara 25 hingga 65 tahun yang tidak pernah mengenyam pendidikan, dengan jumlah lebih dari 20 ribu orang.
Dampak pada Rata-rata Lama Sekolah
Bagi kelompok usia yang seharusnya bersekolah, yaitu antara 7 hingga 19 tahun, tercatat sekitar 4.400 anak yang putus sekolah. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap rata-rata lama sekolah masyarakat yang saat ini hanya mencapai 7,95 tahun, setara dengan pendidikan kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Ini adalah catatan penting untuk kita semua. Meskipun ada penurunan, angka ini masih terlalu tinggi. Artinya, pekerjaan kita belum berakhir,” ungkap Wandi dengan tegas.
Strategi Pemerintah untuk Mengatasi ATS
Untuk menekan angka ATS, pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Disdikbud telah menyiapkan berbagai strategi. Salah satu langkah yang diambil adalah memperkuat peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai jalur pendidikan nonformal. PKBM ditujukan khusus bagi warga dewasa yang ingin mengejar pendidikan kesetaraan melalui Paket A, B, atau C.
Pembaruan Data Kependudukan
Selain itu, Disdikbud juga bekerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) untuk memperbarui data kependudukan. Warga yang telah menyelesaikan pendidikan diharapkan untuk segera memperbarui status pendidikan mereka dalam Kartu Keluarga, agar data mengenai ATS menjadi lebih akurat dan terkini.
Inisiatif di Lingkungan Pondok Pesantren
Langkah lainnya yang diambil adalah menyasar pondok pesantren. Operator Education Management Information System (EMIS) di pesantren diminta untuk lebih aktif dalam mendata santri, sehingga mereka tidak tercatat sebagai ATS. Wandi menjelaskan, “Kami ingin memastikan bahwa santri yang sedang belajar di pesantren tidak dihitung sebagai ATS. Mereka tetap bersekolah, hanya melalui jalur yang berbeda.”
Upaya Meningkatkan Kesadaran Pendidikan
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan. Usaha ini meliputi penyuluhan dan program-program yang bertujuan untuk mengedukasi orang tua dan masyarakat sekitar tentang manfaat pendidikan bagi anak-anak dan generasi mendatang. Dengan adanya program tersebut, diharapkan akan ada peningkatan partisipasi dalam pendidikan.
- Pendidikan nonformal melalui PKBM
- Pembaruan data kependudukan dengan Disdukcapil
- Penguatan data santri di pondok pesantren
- Penyuluhan kepada masyarakat
- Program pendidikan kesetaraan untuk warga dewasa
Kesimpulan dari Upaya yang Dilakukan
Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan komitmen yang kuat untuk menurunkan angka ATS. Meskipun sudah ada kemajuan, tantangan yang tersisa perlu diatasi dengan lebih serius. Kerja sama antara berbagai instansi pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk mencapai target pendidikan yang lebih baik dan memastikan bahwa setiap anak mendapatkan akses pendidikan yang layak. Dengan langkah-langkah yang diambil, diharapkan jumlah anak tidak sekolah di Tasikmalaya dapat terus berkurang di masa mendatang, dan setiap individu memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Kunjungan Wisatawan ke Ciwidey dan Pangandaran Capai Rekor Tertinggi Tahun Ini
➡️ Baca Juga: Wakil Ketua DPRD Lampung Ramaikan Perayaan HUT IWAPI yang Ke-51
