Di tengah tantangan yang dihadapi oleh kawasan perkotaan, seperti terbatasnya lahan dan meningkatnya kebutuhan akan ketahanan pangan, urban farming telah menjadi solusi yang semakin penting. Surabaya, sebagai salah satu kota besar di Indonesia, berupaya mengoptimalkan potensi urban farming untuk menjawab ancaman terhadap ketahanan pangan di wilayahnya.
Pemanfaatan Ruang Terbatas untuk Pertanian Perkotaan
Dalam konteks urban farming, berbagai metode dapat diterapkan untuk mengubah pekarangan, lahan kosong, dan ruang terbatas lainnya menjadi sumber pangan yang produktif. Teknik seperti hidroponik, vertikultur, dan akuaponik menjadi pilihan yang populer untuk memaksimalkan hasil pertanian di area yang padat penduduk.
Transformasi ruang ini bukan hanya sekadar aktivitas bercocok tanam, tetapi juga berpotensi menjadi gerakan ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, hasil panen dari aktivitas urban farming dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga dan bahkan dipasarkan, sehingga menciptakan nilai ekonomi dan meningkatkan kemandirian pangan di lingkungan sekitar.
Inisiatif Pemerintah Kota Surabaya
Pemerintah Kota Surabaya mengambil langkah proaktif dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan urban farming. Salah satu inisiatif yang diluncurkan adalah Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026, yang bertujuan untuk mendorong masyarakat berpartisipasi dalam meningkatkan produksi pangan sambil menjaga pasokan dan stabilitas harga komoditas.
Anna Fajriatin, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya, menyatakan bahwa program ini telah berjalan selama lima tahun dengan fokus pada budidaya cabai rawit dan bawang merah sebagai komoditas utama. Target panen ditetapkan pada awal bulan Desember 2026, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan lokal.
Sinergi dengan Program Kampung Pancasila
Urban farming juga diintegrasikan dengan program Kampung Pancasila, khususnya dalam pilar lingkungan. Lomba Kampung Pancasila melibatkan seluruh 1.361 Rukun Warga (RW) di Surabaya, dan diharapkan dapat menciptakan sinergi yang kuat antara program urban farming dan upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
“Tahun 2026 akan menjadi momen penting di mana program dari Dinas Ketahanan Pangan akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila,” ujar Anna. Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menggalang partisipasi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan yang bersumber dari lingkungan terdekat mereka.
Gerakan Bersama untuk Kemandirian Pangan
Urban farming bukan hanya sekadar lomba, tetapi merupakan gerakan kolektif yang melibatkan berbagai pihak di setiap wilayah. Dengan melibatkan 1.361 RW, tujuan utama adalah membangun ketahanan pangan berskala lokal yang dimulai dari lingkungan masing-masing. Hal ini menjadi langkah penting dalam menciptakan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kemandirian pangan.
Memanfaatkan Berbagai Ruang di Perkotaan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya, Nanik Sukristina, menekankan pentingnya memanfaatkan berbagai ruang di perkotaan untuk kegiatan urban farming. Ruang yang dimaksud meliputi pekarangan rumah, lahan aset, fasilitas umum, hingga lahan yang belum dimanfaatkan. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan mulai dari skala rumah tangga.
“Setelah berhasil di tingkat rumah tangga, kita dapat melanjutkan pengembangan ke skala yang lebih luas, misalnya pada tingkat RW,” jelas Nanik. Dalam rangkaian SUFC tahun ini, terdapat empat kategori yang ditawarkan, yaitu urban farming terintegrasi, kuantitas bawang merah, kuantitas cabai rawit, dan urban farming pemula.
Mendorong Inovasi dan Kreativitas dalam Pertanian Perkotaan
Melalui SUFC, pemerintah kota berupaya mendorong masyarakat untuk berinovasi dalam memanfaatkan ruang-ruang yang ada. Berbagai metode dan teknik pertanian yang efisien menjadi fokus utama agar hasil pertanian dapat optimal meskipun di lahan yang terbatas. Kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan di tingkat lokal semakin meningkat dengan adanya program ini.
- Peningkatan produksi pangan lokal.
- Stabilisasi harga komoditas.
- Pembangunan komunitas yang mandiri.
- Penggunaan teknologi pertanian modern.
- Partisipasi aktif masyarakat dalam program pemerintah.
Urban Farming sebagai Solusi Berkelanjutan
Urban farming di Surabaya tidak hanya sekadar menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga berfungsi sebagai solusi berkelanjutan untuk tantangan yang dihadapi kota-kota besar. Dengan memanfaatkan lahan yang ada secara efisien, Surabaya berupaya menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Inisiatif ini memberikan peluang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses produksi pangan, sekaligus merangsang pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi antara berbagai pihak, urban farming berpotensi mengubah wajah ketahanan pangan di Surabaya menjadi lebih baik.
Membangun Kesadaran dan Pendidikan Masyarakat
Selain program kompetisi, penting juga untuk membangun kesadaran dan pendidikan masyarakat mengenai pentingnya ketahanan pangan. Melalui workshop, seminar, dan pelatihan, masyarakat dapat diberikan pengetahuan tentang teknik-teknik urban farming yang efektif serta manfaat dari aktivitas ini.
Dengan adanya edukasi yang tepat, masyarakat akan lebih memahami pentingnya menjaga ketahanan pangan di tingkat lokal dan bagaimana mereka dapat berkontribusi. Selain itu, partisipasi aktif dalam urban farming juga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Peran Teknologi dalam Urban Farming
Penerapan teknologi dalam urban farming menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Metode seperti hidroponik dan akuaponik memanfaatkan teknologi modern yang memungkinkan pertanian dilakukan di lahan yang terbatas, sekaligus mengurangi penggunaan air dan pupuk kimia.
Dengan mengadopsi teknologi terkini, para petani urban dapat memproduksi hasil pertanian yang lebih berkualitas dengan biaya yang lebih efisien. Hal ini tidak hanya menguntungkan bagi petani, tetapi juga bagi konsumen yang mendapatkan akses terhadap produk segar dan sehat.
Kesimpulan
Urban farming di Surabaya menunjukkan potensi yang besar untuk memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan di kawasan perkotaan. Melalui berbagai inisiatif dan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Surabaya berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertanian berkelanjutan. Dengan memanfaatkan ruang yang ada secara bijaksana dan menerapkan teknologi yang tepat, kota ini dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di masa depan.
➡️ Baca Juga: BPBD DKI Tingkatkan Ketersediaan Air Bersih di Tengah Kemarau Panjang
➡️ Baca Juga: STY Kembali ke Indonesia untuk Pimpin Timnas Mini Soccer di Intercontinental Cup 2023
