slot depo 10k slot depo 10k
Nasional

Pengawasan Hewan Kurban Diperketat di Barantin Menjelang Idul Adha 2026

Menjelang Idul Adha 2026, Badan Karantina Indonesia (Barantin) tengah meningkatkan pengawasan terhadap lalu lintas hewan kurban. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran penyakit hewan serta memastikan keamanan pangan nasional tetap terjaga. Dengan meningkatnya permintaan akan hewan kurban, penting bagi setiap pihak terkait untuk memastikan bahwa hewan yang akan disembelih dalam keadaan sehat dan bebas dari penyakit.

Pentingnya Pengawasan Hewan Kurban

Deputi Bidang Karantina Hewan Barantin, Sriyanto, menegaskan bahwa pengawasan ini dilakukan di seluruh unit pelayanan karantina. Tujuannya adalah untuk memastikan setiap hewan kurban yang beredar dalam kondisi sehat dan tidak terjangkit penyakit yang membahayakan.

“Layanan karantina kami beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, di seluruh unit pelaksana teknis (UPT). Kami fokus pada lokasi pemasukan dan pengeluaran hewan kurban. Selain itu, kami terus melakukan sosialisasi persyaratan kepada masyarakat dan pelaku usaha untuk memastikan bahwa peningkatan lalu lintas hewan kurban tidak menimbulkan risiko kesehatan,” ujar Sriyanto dalam keterangannya di Jakarta.

Aspek Pengawasan yang Diterapkan

Proses pengawasan mencakup beberapa aspek penting, antara lain:

  • Pemeriksaan kesehatan hewan secara menyeluruh.
  • Verifikasi kelengkapan dokumen yang diperlukan.
  • Disinfeksi alat angkut yang digunakan untuk mencegah penyebaran penyakit.
  • Pemantauan terhadap hewan yang berisiko tinggi, seperti yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD).
  • Koordinasi yang efektif dengan berbagai instansi terkait.

Menurut Sriyanto, petugas karantina akan tetap siaga di seluruh unit pelaksana teknis, terutama di pintu-pintu masuk dan keluar ternak antarwilayah. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada hewan yang terlewatkan dalam proses pemantauan.

Kerja Sama dengan Berbagai Instansi

Pengawasan hewan kurban dijalankan melalui kerja sama yang erat dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Selain itu, keterlibatan TNI, Polri, dan instansi terkait lainnya sangat penting untuk mendukung kelancaran pengawasan ini.

Sriyanto juga mengingatkan masyarakat agar lebih teliti dalam memastikan kesehatan hewan kurban yang akan dibeli. Ia menekankan pentingnya membeli hewan yang dilengkapi dengan dokumen resmi untuk mencegah risiko penularan penyakit yang dapat merugikan peternak lainnya.

Pentingnya Dokumentasi Resmi

“Hewan yang tidak melalui proses karantina berpotensi menularkan penyakit, yang dapat berdampak buruk bagi peternak lainnya. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga Indonesia dari ancaman penyakit hewan dengan mematuhi aturan karantina,” tegasnya.

Data Lalu Lintas Hewan Kurban

Berdasarkan data dari sistem sertifikasi karantina Best Trust, lalu lintas hewan kurban pada periode Januari hingga Juni 2025 mencapai 475.284 ekor, dengan sapi dan kambing mendominasi angka tersebut. Dari total tersebut, sapi tercatat sebanyak 271.037 ekor, sementara kambing mencapai 192.956 ekor.

Pada bulan Mei 2025, lalu lintas hewan kurban mencapai puncaknya dengan jumlah 190.545 ekor, mengalami peningkatan sekitar 135 persen dibandingkan bulan April sebelumnya. Tren peningkatan yang signifikan ini perlu diantisipasi untuk mencegah masalah kesehatan hewan yang lebih besar.

Tren Lalu Lintas Hewan Kurban di 2026

Sementara itu, pada periode yang sama di tahun 2026, hingga tanggal 16 April, jumlah lalu lintas hewan kurban telah mencapai 218.208 ekor, yang berarti sekitar 52,91 persen dari total lalu lintas yang tercatat pada tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan adanya tren peningkatan setiap bulannya.

Strategi Penerapan Biosekuriti

Direktur Tindakan Karantina Hewan Barantin, Cicik Sri Sukarsih, menjelaskan bahwa peningkatan lalu lintas hewan kurban tersebut akan diantisipasi dengan penerapan biosekuriti yang ketat. Ini mencakup berbagai tindakan preventif untuk memastikan bahwa hewan yang diperdagangkan tidak membawa penyakit.

“Kami mencatat bahwa lalu lintas pada periode Januari hingga Maret, yang berasal dari daerah seperti Lampung, NTB, Bali, dan NTT menuju Pulau Jawa dan Kalimantan, meningkat hingga 13,75 persen dibandingkan tahun lalu. Semua hewan yang beredar akan diperiksa melalui sistem Best Trust untuk memastikan proses sertifikasi tetap cepat tanpa mengabaikan aspek keamanan hayati,” jelas Cicik.

Tindakan Disinfeksi Alat Angkut

Selain itu, langkah biosekuriti juga mencakup disinfeksi alat angkut di daerah asal maupun tujuan untuk meminimalisir risiko penyebaran penyakit hewan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kesehatan hewan kurban dapat terjaga, dan masyarakat dapat merayakan Idul Adha dengan aman dan nyaman.

Penting bagi kita semua untuk berperan aktif dalam menjaga kesehatan hewan kurban. Dengan pengawasan yang ketat dan kerjasama antara berbagai pihak, penyebaran penyakit hewan dapat ditekan, dan kualitas hewan kurban yang diperjualbelikan pun dapat terjamin. Mari kita sambut Idul Adha dengan penuh kesadaran akan kesehatan hewan dan keamanan pangan nasional.

➡️ Baca Juga: Sale April: Dapatkan Diskon Menarik untuk Skincare dan Makeup yang Tak Boleh Dilewatkan!

➡️ Baca Juga: Mitsubishi Xpander Hybrid Facelift Sudah Muncul Sebelum Resmi Masuk Indonesia

Related Articles

Back to top button