slot depo 10k slot depo 10k
Ekonomi

IPAL Ramah Lingkungan untuk IKM Sasirangan Tapin Mengurangi Limbah Hingga 98%

Transformasi industri di Indonesia kini memasuki era baru yang lebih berkelanjutan, dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Dalam upaya tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengumumkan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk Industri Kecil dan Menengah (IKM) Sentra Sasirangan Timbaan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi limbah hingga 98%, memberikan solusi efektif bagi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh industri tekstil lokal.

Teknologi Ramah Lingkungan untuk IKM

Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk mengimplementasikan teknologi yang tidak hanya meningkatkan efisiensi dalam proses produksi, tetapi juga memperkuat aspek keberlanjutan lingkungan. Menperin menekankan bahwa inovasi ini merupakan bagian integral dalam mencapai target industri nasional yang kompetitif, inklusif, dan berkelanjutan sesuai prinsip industri hijau. Dengan demikian, IKM di sektor sasirangan dapat beroperasi dengan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Detail Pembangunan IPAL

IPAL yang dibangun memiliki kapasitas 3.500 liter dan merupakan hasil dari Program Percepatan Pemanfaatan Teknologi melalui Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri (DAPATI), yang dikelola oleh Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI). Dengan adanya IPAL ini, diharapkan IKM sasirangan tidak hanya mampu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya air.

Manfaat IPAL bagi Lingkungan dan IKM

Dengan adanya IPAL, pencemaran lingkungan dapat diminimalkan secara signifikan. Sistem ini dirancang untuk mendaur ulang sekitar 90% air limbah yang diolah, sehingga IKM dapat menghemat penggunaan air bersih. Sebelumnya, limbah cair dari pewarnaan kain sasirangan dibuang secara langsung ke sumur resapan tanpa proses pengolahan, yang berisiko mencemari tanah dan sumber air di sekitarnya.

Teknologi Pengolahan yang Efisien

Kepala BSPJI Banjarbaru, Oktaviyanto Jimat Wibowo, menjelaskan bahwa melalui DAPATI, BSPJI Banjarbaru menawarkan solusi teknologi yang sederhana dan mudah dioperasikan. Teknologi ini tidak hanya memanfaatkan material lokal tetapi juga meningkatkan kualitas pengelolaan limbah cair pada IKM sasirangan. Hal ini menciptakan sistem yang lebih efisien dalam mengolah limbah, dengan tujuan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pengurangan Parameter Pencemaran

IPAL yang memiliki dimensi 4,5 x 2 x 1,2 meter ini terdiri dari tujuh bak pengolahan. Proses awal menggunakan metode elektrokoagulasi dengan inverter untuk mengendapkan logam, diikuti dengan penyaringan limbah melalui lima media lokal: ijuk, arang, pecahan genteng, sabut kelapa, dan tumbuhan purun. Setelah melalui proses ini, limbah akan masuk ke bak kontrol sebelum akhirnya dialirkan ke sumur resapan.

Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa IPAL mampu menurunkan berbagai parameter pencemar secara signifikan, antara lain:

  • Hidrogen Sulfida (H2S) sebesar 98,75%
  • Minyak dan Lemak sebesar 97,33%
  • Fenol sebesar 91,66%
  • BOD sebesar 81,77%
  • COD sebesar 80,44%
  • TSS sebesar 40,74%

Hampir semua parameter yang diuji telah memenuhi standar baku mutu sebagaimana diatur dalam Pergub Kalsel No 36/2008 dan Permen LHK No 12/2025, menjadikan IPAL ini sebagai solusi efektif untuk pengelolaan limbah industri.

Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

Program DAPATI tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Kepala BSKJI Emmy Suryandari menyatakan bahwa program ini berupaya memastikan pelaku industri dapat mengoperasikan teknologi dengan mandiri dan berkelanjutan. Kegiatan ini sangat penting dalam menciptakan industri yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berkomitmen pada aspek keberlanjutan.

Bimbingan Teknis untuk Pengrajin

Sebagai bagian dari program, BSPJI Banjarbaru telah memberikan bimbingan teknis kepada 15 pengrajin dari sembilan IKM anggota Sentra Sasirangan Timbaan. Materi yang diajarkan mencakup pengoperasian IPAL, pemahaman baku mutu air limbah, pengelolaan lingkungan, serta aspek kewirausahaan dan pemasaran. Dengan demikian, para pengrajin diharapkan dapat mengelola proses produksi secara lebih efisien dan ramah lingkungan.

Optimalisasi Pengelolaan Limbah

Di pusat produksi ini, setiap proses menghasilkan sekitar 250 liter limbah cair. Sebelumnya, limbah tersebut hanya ditampung di sumur resapan berkapasitas 500 liter tanpa diolah, yang jelas tidak efisien. Dengan adanya IPAL baru yang memiliki kapasitas 3.500 liter, pengelolaan limbah kini menjadi jauh lebih optimal, sehingga IKM dapat beroperasi dengan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Monitoring dan Replikasi di Daerah Lain

Kedepannya, BSPJI Banjarbaru berkomitmen untuk terus memantau pemanfaatan IPAL ini. Harapannya, hasil yang diperoleh dapat dijadikan model bagi sentra sasirangan lainnya serta IKM di Kalimantan Selatan dan di seluruh Indonesia. Dengan demikian, industri lokal dapat berkembang secara berkelanjutan, mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang lebih baik.

➡️ Baca Juga: Anthropic Kembali Bernegosiasi dengan Departemen Pertahanan AS untuk Kerjasama Strategis

➡️ Baca Juga: Panduan Sehat Menjaga Pola Makan Seimbang untuk Mendukung Aktivitas Sehari Anda

Related Articles

Back to top button