slot depo 10k slot depo 10k
Daerah

Kelurahan Sukamiskin di Bandung Kembangkan Ekosistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Kelurahan Sukamiskin yang berada di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, telah mengambil langkah signifikan dalam memperkuat ekosistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Melalui pendekatan yang holistik, mereka berupaya membangun sistem pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga ke tingkat kelurahan, menjadikan partisipasi masyarakat sebagai kunci utama dalam upaya ini.

Inisiatif Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, berbagai metode telah diimplementasikan. Di antaranya adalah pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengolahan sampah organik dengan menggunakan maggot, serta pengolahan sampah nonorganik menjadi bahan bakar alternatif berupa briket. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang dihasilkan, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah yang efektif.

Pendekatan Partisipatif

Lurah Sukamiskin, Sofian Ismail, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di wilayahnya dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk RT, RW, dan lembaga kemasyarakatan lainnya. Dengan pendekatan partisipatif, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami dan merasakan manfaat dari program pengelolaan sampah yang ada.

Budidaya Maggot untuk Pengolahan Sampah Organik

Salah satu metode yang telah berhasil diimplementasikan adalah budidaya maggot untuk mengurai sampah organik. Saat ini, proses pengolahan ini mampu menangani sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah setiap harinya, dengan target yang ditetapkan adalah mencapai satu ton per hari. Upaya ini tidak hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

“Maggot memiliki kapasitas pengolahan sekitar 400 hingga 500 kilogram sehari. Meski target kami adalah satu ton, faktor-faktor seperti suhu dan kondisi lainnya tentu mempengaruhi,” ungkap Sofian dalam keterangannya kepada pihak terkait.

Peningkatan Kesadaran Masyarakat

Selain pengolahan sampah di tingkat kelurahan, Kelurahan Sukamiskin juga berupaya melakukan perubahan perilaku masyarakat melalui program pemilahan sampah dari sumbernya. Hingga kini, sekitar 500 rumah tangga telah mendapatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah menjadi kategori organik, nonorganik, dan residu.

Partisipasi Aktif Masyarakat

Dari total tersebut, sekitar 250 rumah tangga atau setengahnya telah mulai melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri. “Kami telah memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai pemilahan sampah. Saat ini, sekitar 250 rumah tangga telah aktif dalam proses ini,” tambahnya.

Fasilitas Pengolahan di Setiap RW

Untuk mendukung upaya tersebut, telah disediakan sarana pengolahan di setiap RW. Dari total 17 RW yang ada, masing-masing minimal memiliki dua unit tempat pengolahan berbasis komposter. Beberapa RW bahkan telah memiliki hingga lima unit, yang memungkinkan masyarakat untuk mengolah sampah organik secara langsung tanpa perlu membawanya ke tempat pembuangan sementara (TPS).

“Kami menargetkan 100 persen pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga di wilayah kami diharapkan sudah mampu memilah dan mengolah sampah secara mandiri di rumah,” jelas Sofian.

Pengolahan Sampah Nonorganik Menjadi Briket

Kelurahan Sukamiskin juga mengembangkan metode pengolahan sampah lainnya melalui peyeumisasi sampah. Saat ini, proses ini didukung oleh enam unit mesin yang digunakan untuk mengolah sampah nonorganik menjadi briket. Metode ini tidak hanya menambah nilai ekonomi dari sampah, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi dampak lingkungan.

Proses Pengolahan Sampah Nonorganik

Pengolahan dimulai dengan memasukkan sampah nonorganik ke dalam wadah yang telah disediakan. Sampah tersebut ditumpuk secara bertahap dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter dan diberikan bioaktivator yang bertujuan untuk mempercepat proses dekomposisi. Proses ini dilakukan berulang hingga tumpukan mencapai sekitar 1,2 meter.

Setelah proses penumpukan, sampah akan dikeringkan selama minimal tujuh hari. Selanjutnya, sampah yang telah kering akan digiling menggunakan mesin, melalui beberapa tahapan penggilingan, yaitu penggilingan kasar, penggilingan halus, dan pencampuran bahan perekat dari kanji sebelum akhirnya dicetak menjadi briket.

Dampak Positif bagi Lingkungan dan Masyarakat

Inisiatif yang dilakukan oleh Kelurahan Sukamiskin dalam mengembangkan ekosistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat tidak hanya memiliki dampak positif pada lingkungan, tetapi juga pada perekonomian masyarakat. Dengan mengolah sampah menjadi produk yang bernilai, mereka dapat menciptakan peluang usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Melalui upaya ini, Kelurahan Sukamiskin memberikan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Penguatan ekosistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat diharapkan dapat menjadi model bagi kelurahan-kelurahan lainnya di Indonesia.

➡️ Baca Juga: Para Perasuk Tawarkan Perspektif Segar Tentang Spiritualitas yang Menarik dan Mendalam

➡️ Baca Juga: Rumah Pompa Ancol Tambah 5 Unit Pompa Raksasa untuk Atasi Banjir Rob secara Efektif

Related Articles

Back to top button