BP Batam Wajibkan Pengembang Data Center Membangun Instalasi Air Mandiri SWRO untuk Cegah Krisis Air

Di tengah tantangan yang dihadapi dalam penyediaan air bersih, Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kepulauan Riau, telah mengambil langkah strategis yang signifikan. BP Batam mewajibkan semua pengembang pusat data untuk membangun dan mengoperasikan instalasi pengolahan air mandiri berbasis teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Langkah ini diambil untuk memastikan kebutuhan operasional pusat data terpenuhi tanpa mengabaikan keberlanjutan sumber daya air yang krusial bagi masyarakat.
Pentingnya Kebijakan Instalasi Air Mandiri SWRO
Kebijakan yang diterapkan oleh BP Batam ini merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi dalam sektor teknologi informasi dan kebutuhan dasar masyarakat akan air bersih. Ariastuty Sirait, Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, menekankan bahwa komitmen ini tidak hanya berfokus pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan sumber daya alam.
Dalam konteks ini, instalasi air mandiri SWRO diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah krisis air yang mungkin timbul akibat meningkatnya permintaan dari pusat data. Dengan memanfaatkan teknologi ini, air laut yang melimpah dapat diolah menjadi air bersih yang layak untuk digunakan.
Pengembangan Ekosistem Data Center
BP Batam telah mendorong pengembangan ekosistem pusat data di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park dan kawasan industri Kabil menggunakan model pengelolaan air mandiri berbasis SWRO. Ini merupakan langkah yang cerdas untuk menghadapi tantangan pasokan air di masa depan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari BP Batam, dari enam pelaku usaha pusat data yang terdaftar, satu di antaranya sudah beroperasi, sementara satu lainnya masih dalam proses pembangunan. Empat pelaku usaha sisanya masih berada dalam tahap perencanaan konstruksi.
Infrastruktur Air di Kawasan Nongsa
Kawasan Nongsa Digital Park sendiri telah mempersiapkan embung internal yang berfungsi untuk pemeliharaan area tersebut. Namun, penting untuk dicatat bahwa pasokan air dari Waduk Duriangkang untuk pusat data hanya bersifat sementara dan terbatas, khususnya selama fase konstruksi dan persiapan fasilitas.
Proyeksi Kebutuhan Air
Ariastuty menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan air aktual dari fasilitas yang sudah beroperasi dan proyeksi kebutuhan dari proyek yang masih dalam tahap perencanaan. Dengan pemahaman yang jelas tentang perbedaan ini, BP Batam dapat mengambil langkah yang lebih tepat dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya air.
Langkah-langkah Memperkuat Ketahanan Pasokan Air
Dalam menghadapi tantangan kebutuhan air yang terus berkembang, BP Batam juga telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pasokan air bagi masyarakat. Langkah-langkah tersebut meliputi:
- Optimalisasi sumber air baku
- Peningkatan infrastruktur jaringan distribusi
- Percepatan pembangunan infrastruktur air
- Peningkatan efisiensi dalam pengelolaan air
- Kolaborasi dengan berbagai pihak terkait
Saat ini, BP Batam tengah melakukan diskusi untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan pasokan air selama masa-masa kritis.
Implementasi Sistem Pemantauan Air
Selain itu, BP Batam juga memprioritaskan pemasangan sistem pemantauan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) berbasis Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA). Sistem ini dirancang untuk mendeteksi kebocoran serta memantau kondisi operasional jaringan secara berkelanjutan, sehingga dapat memastikan pasokan air yang efisien dan efektif.
Kerja Sama dengan Pihak Terkait
BP Batam juga menjajaki kemitraan dengan sektor swasta dan instansi pemerintah, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS), untuk mempercepat diversifikasi sumber pasokan air. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan air dan menyediakan alternatif yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Pengembangan Teknologi SWRO
Penjajakan ini mencakup pengembangan teknologi SWRO, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memenuhi kebutuhan air bersih di Batam. Selain itu, BP Batam juga mempertimbangkan potensi pasokan air dari Kabupaten Lingga dan Bintan untuk memperluas sumber daya air yang tersedia.
Rencana Pembangunan Waduk Baru
Dalam jangka panjang, pembangunan waduk baru menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan meskipun proses pembangunannya diperkirakan akan memakan waktu lima hingga tujuh tahun sebelum dapat dimanfaatkan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memastikan ketersediaan pasokan air yang cukup di masa depan.
Dengan berbagai inisiatif yang diambil, BP Batam menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan pusat data tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan dan ketersediaan sumber daya air bagi masyarakat. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi model bagi perkembangan investasi di wilayah lain, dengan tetap memprioritaskan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
➡️ Baca Juga: Jadwal Pekan 34 Liga Inggris: Persaingan Ketat Menuju Puncak Klasemen
➡️ Baca Juga: DPR RI Menyatakan Kendaraan Listrik Sebagai Solusi Utama Dekarbonisasi Transportasi



