Dukung Transisi Energi Melalui Proyek Vanda RE sebagai Bukti Kolaborasi Regional yang Kuat

Jakarta – Transisi energi di kawasan Asia Tenggara mengalami percepatan berkat kerja sama strategis dalam pengembangan proyek besar bernama Vanda RE. Proyek ini bukan hanya sekadar ambisi untuk dekarbonisasi, tetapi juga menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 2.000 Megawatt (MW) atau 2 GWp yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan baterai masif berkapasitas 4.400 MWh (4,4 GWh). Dengan peran sebagai penyedia energi lintas batas antara Indonesia dan Singapura, Vanda RE diharapkan dapat menarik Investasi Asing Langsung (FDI) hingga mencapai US$50 miliar.
Tantangan Eksekusi: Integrasi yang Kompleks
Membangun infrastruktur kelistrikan berskala gigawatt yang melintasi batas negara merupakan tugas yang penuh tantangan dan kompleksitas teknis. Menurut Jerin Raj, Senior Vice President & Managing Director Asia-Pasifik dan India di Black & Veatch, tantangan utama terletak pada proses integrasi. “Meskipun ada elemen teknis yang harus dihadapi seperti pada proyek energi dan penyimpanan baterai lainnya, tantangan yang lebih besar adalah mengintegrasikan semua komponen agar dapat beroperasi secara bersamaan,” ungkap Jerin.
Menanggapi tantangan ini, Black & Veatch diangkat sebagai konsultan teknik utama pada Juni 2025, bertanggung jawab atas desain dan pembangunan sistem yang mencakup:
- Sistem photovoltaic (PV)
- Sistem penyimpanan energi baterai (BESS)
- Gardu induk tegangan tinggi (HV)
- Jalur transmisi listrik
- Infrastruktur pelabuhan pendukung
Rekam Jejak dan Pencapaian Proyek Vanda RE
Keberhasilan dalam integrasi proyek ini terlihat dari kemajuan Vanda RE yang cepat dalam menggandeng mitra Tier 1 global, sambil tetap mematuhi regulasi domestik Indonesia, terutama terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Berikut adalah pencapaian strategis Vanda RE hingga saat ini:
- September 2023: Mendapatkan Persetujuan Bersyarat dari Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA).
- September 2024: Resmi memperoleh Lisensi Bersyarat dari EMA Singapura. Pada bulan yang sama, Trinasolar menyepakati penyediaan panel surya sebesar 1,2 GW yang akan diproduksi sesuai dengan ketentuan TKDN Indonesia.
- Mei 2025: LONGi Green Energy Technology menyusul sebagai pemasok panel surya sebesar 1 GW, juga memenuhi syarat TKDN.
- Juni 2025: Black & Veatch ditunjuk sebagai konsultan teknik utama untuk mendesain infrastruktur yang diperlukan.
- Juli 2025: Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) bergabung untuk menyediakan sistem baterai EnerX hingga 2,2 GWh, yang akan diproduksi di pabrik terbaru CATL di Jawa Barat.
- Januari 2026: PT Vanda Energy Indonesia menandatangani MoU dengan Pemerintah Kabupaten Karimun, menegaskan kerja sama di sektor infrastruktur, perizinan, ketenagakerjaan lokal, dan penyediaan energi bersih untuk masyarakat.
Navigasi Regulasi Lintas Negara
Keharmonisan regulasi antara Indonesia dan Singapura menjadi salah satu pilar utama keberhasilan eksekusi proyek ini. Enda Ginting, Country Manager Indonesia Gurīn Energy dan Direktur Vanda RE, menyatakan bahwa mereka bekerja sama erat dengan berbagai kementerian di Indonesia, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Perdagangan, Investasi, Perindustrian, Kehutanan, Lingkungan Hidup, Perhubungan, Kemaritiman, dan Pertanahan. “Dengan banyaknya kementerian yang terlibat, hal ini menjadi hal yang tidak mengejutkan bagi para investor yang tertarik ke Indonesia. Pada tahun 2025, belum ada regulasi yang pasti, namun kami berharap pada tahun 2026 kejelasan akan tercapai,” jelas Enda.
Komitmen Terhadap Masyarakat Lokal
Melalui MoU yang ditandatangani dengan Pemerintah Kabupaten Karimun pada awal 2026, Vanda RE menunjukkan komitmennya bahwa masyarakat lokal harus terlibat secara aktif dalam proyek ini. “Fasilitas energi seharusnya menjadi aset bersama, seperti jalan raya. Sangat tidak masuk akal jika infrastruktur dibangun, tetapi masyarakat di sekitar tidak mendapatkan akses listrik,” tegas Enda. Ia menjamin bahwa kepentingan warga lokal telah dimasukkan dalam model finansial proyek tanpa mengganggu keberlanjutan ekonomi dari Vanda RE.
Dengan kehadiran mitra-mitra terkemuka dalam konsorsium ini, diharapkan dapat menjadi tolok ukur bagi pengembangan 100 GW energi terbarukan di Indonesia. “Kami optimis bahwa mitra yang bergabung dengan Vanda RE dapat memenuhi standar kualitas yang diharapkan oleh pemerintah. Dengan memanfaatkan peluang ini, kita dapat melihat potensi yang dapat dihasilkan dari proyek lintas batas dalam memenuhi kebutuhan kelistrikan domestik,” tutup Enda.
➡️ Baca Juga: Infinix NOTE 60 Resmi Dijual di Indonesia dengan Harga Mulai Rp5 Jutaan
➡️ Baca Juga: Film Komedi Terbaru yang Tayang di Bioskop September 2026 dan Wajib Ditonton




