Suster Paulina Hadapi Ketakutan Anak-Anak ALMA Saat Gempa Mengguncang Doa Pagi

Suasana pagi di Kapel Susteran ALMA (Asosiasi Lembaga Misionaris Awam) Maumere seharusnya menjadi waktu hening dan penuh khusyuk. Di tengah kebersamaan, suster, pegawai, dan anak-anak berkebutuhan khusus berkumpul untuk berdoa. Namun, keheningan tersebut tiba-tiba terputus ketika gempa bumi berkekuatan M 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, mengubah momen spiritual menjadi kepanikan. Dalam sekejap, refleks alami muncul, dan semua yang ada di dalam ruangan segera bergegas untuk menyelamatkan diri dan anak-anak dari bangunan yang terancam runtuh.
Kejadian Gempa yang Mengguncang Kapel
Dalam situasi yang penuh ketegangan tersebut, Suster Paulina Bule Alma, Pimpinan Biara Susteran ALMA Maumere, menceritakan bahwa saat gempa terjadi, mereka semua sedang khusyuk dalam doa. “Kami langsung berlari keluar begitu merasakan guncangan yang kuat,” jelasnya. Langkah cepat membawa mereka ke area terbuka di sebelah kapel. Di luar, getaran tanah semakin terasa, dan rasa takut pun melanda, terutama di kalangan anak-anak disabilitas yang berada dalam kebingungan.
Dalam momen ketakutan itu, tanpa pikir panjang, semua orang saling memeluk erat. Dalam situasi yang sangat menegangkan, momen kebersamaan ini memberikan sedikit penghiburan. “Gempa itu sangat kuat, membuat semua orang takut, termasuk kami para suster,” ungkap Suster Paulina. Mereka berusaha memberikan rasa aman di tengah kepanikan yang melanda.
Evakuasi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus
Setelah situasi mulai tenang, Suster Paulina dan tim pengasuh kembali ke ruangan untuk memastikan keamanan anak-anak. Namun, situasi kembali berubah saat gempa susulan mengguncang pada pagi hari Minggu, 16, yang memicu kepanikan baru. Dengan beberapa bangunan yang menunjukkan retakan, mereka menyadari betapa berbahayanya situasi tersebut. “Kami segera memutuskan untuk mengevakuasi anak-anak demi keselamatan mereka,” kata Suster Paulina.
- Prioritas utama adalah keselamatan anak-anak.
- Pengasuh memindahkan anak putri ke ruang tamu.
- Anak putra ditempatkan di ruangan yang lebih luas.
- Evakuasi dilakukan secara bertahap.
- Keputusan untuk tidur di luar diambil demi keamanan.
Keputusan untuk memindahkan tempat tidur anak-anak menjadi langkah yang tepat. Setelah merasakan frekuensi gempa susulan yang meningkat, mereka memutuskan untuk tidur di luar. Di hari kedua, mereka mendirikan tenda-tenda pramuka sederhana, beralaskan tikar dan karpet. Meskipun tampak sederhana, cara ini dianggap paling aman, meskipun harus menghadapi dinginnya malam di luar ruangan.
Bantuan dan Dukungan di Tengah Krisis
Suster Paulina juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari setelah gempa, mereka menerima bantuan dari pemerintah daerah berupa tenda keluarga. Tenda ini menjadi tempat perlindungan utama bagi anak-anak selama seminggu ke depan, baik siang maupun malam. Aktivitas di dalam rumah hanya tersisa untuk memasak, yang dilakukan dengan cepat dan efisien.
Bagi anak-anak dengan berbagai kondisi disabilitas, memahami situasi bencana bukanlah hal yang mudah. Namun, pendekatan komunikatif dan penuh kasih dari Suster Paulina terbukti efektif dalam meredakan kepanikan. Ia menjelaskan secara perlahan kepada anak-anak bahwa dinding rumah bisa runtuh jika terjadi guncangan.
Pengalaman Unik di Tengah Bencana
Menariknya, bagi sebagian anak, pengalaman mengungsi di area terbuka justru memberikan kesan yang positif. “Mereka merasa senang tidur di luar, tanpa beban, seolah-olah sedang berkemah di alam bebas,” tutur Suster Paulina. Di bawah lima tenda yang disiapkan, anak-anak tetap menjalani rutinitas harian mereka dengan tertib. Setelah makan, mereka dengan rapi beristirahat di area terbuka tersebut, merasakan kebersamaan di tengah situasi sulit.
Respon Masyarakat dan Lembaga
Selain dukungan tenda dan terpal dari pemerintah, Susteran ALMA juga menerima paket bantuan dari berbagai pihak. Dukungan ini sangat berarti bagi kelangsungan perawatan anak-anak yang tinggal di panti. Kepedulian yang ditunjukkan oleh masyarakat, serta institusi seperti PT Bank Tabungan Negara (BTN), menjadi penopang penting bagi keberlangsungan kegiatan di panti.
Di tengah bencana, Suster Paulina dan timnya tidak hanya fokus pada pemulihan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental anak-anak. Mereka berusaha menciptakan suasana yang aman dan nyaman, meskipun dalam kondisi yang sulit. Pendekatan ini menjadi kunci dalam membantu anak-anak menghadapi ketakutan dan kecemasan yang muncul akibat gempa bumi.
Peran Suster Paulina dalam Pemulihan
Suster Paulina menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa dalam situasi krisis ini. Dengan ketenangan dan kebijaksanaan, ia memimpin timnya dalam mengatasi tantangan yang ada. “Kami harus tetap kuat dan saling mendukung,” ujarnya. Keberanian dan dedikasi Suster Paulina dalam melindungi anak-anak sangat menginspirasi, terutama dalam menghadapi ketidakpastian yang ditimbulkan oleh bencana.
Keberhasilan evakuasi dan penanganan pascabencana tidak terlepas dari kolaborasi antara suster, pegawai, dan berbagai pihak yang memberikan dukungan. Bersama-sama, mereka menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kasih bagi anak-anak, meskipun dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Refleksi dari Pengalaman Bencana
Pengalaman ini bukan hanya sebuah ujian, tetapi juga pelajaran berharga bagi semua yang terlibat. Suster Paulina dan timnya menyadari pentingnya persiapan dalam menghadapi bencana. “Kami harus selalu siap, baik secara fisik maupun mental,” tegasnya. Kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana menjadi lebih jelas setelah pengalaman berharga ini.
Dengan dukungan yang terus mengalir dari masyarakat dan lembaga, Susteran ALMA berkomitmen untuk terus memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang mereka asuh. Momen-momen sulit ini menguatkan tekad mereka untuk tetap melayani dan menjaga anak-anak, tidak peduli seberapa sulit tantangan yang dihadapi.
Dalam menghadapi bencana, Suster Paulina membuktikan bahwa kasih sayang dan kepedulian dapat mengatasi rasa takut dan kecemasan. Dengan harapan dan keyakinan, mereka melanjutkan perjalanan menuju pemulihan dan masa depan yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Ulasan Docking Station Laptop untuk Memperluas Jumlah Port Koneksi Anda
➡️ Baca Juga: Anthropic Kembali Bernegosiasi dengan Departemen Pertahanan AS untuk Kerjasama Strategis




